Selasa, 04 Desember 2012

ASAL MULA ROTI BUAYA

 Asal muasal "Roti Anak Buaye"
Suatu hari ade temen yg tanye:
"Bang, tau asalnye roti anak buaye?"
Enteng gue sautin aje:
"Jelas dong dari Emak dan Babenye"

Eh dienye jadi sewot
Mukanye asem, matenye melotot
Trus dienye nyolot:
"Eh, loe pikir gue bolot?"
"Eh sabar" kate gue
Kalo loe ngak percaye,
roti anak buaye ada emak babenye,
ini nih ade potonye

Teman-teman, terus terang saya asli ngak tahu dari mana asal roti anak buaya 8-), tapi hari minggu lalu saya ketemu "emak dan babenye" di "Bakeri Lauw" di Pasar Srikaya aka Pasar Boplo (tepat di depan stasiun KA Gondangdia). Bakeri Lauw adalah toko roti yg cukup lama berdiri, mungkin satu angkatan dengan Toko Roti Tan Ek Tjoan (Bener ngak nih?)
Sebetulnya hari itu saya ingin beli roti macan dll, dalam rangka Breakfast Nostalgia di rumah, eh disana saya lihat sepasang roti buaya yg sudah dirias dengan pita dan ditaruh di nampah emas, wah saya pikir ini pasti kawinannya roti buaya nih. Bisa jadi, kalau beranak pinak, jadinya roti anak buaya yg biasa dibagikan dlm acaranya sebuah milis tetangga, hehehehe

Ok deh dari dunia dongeng ke dunia spesifikasi (Katanya Bang Benyamin S: Tukang Insinyur Mode ON 8-)))
-Panjang roti buaya 110 cm,
-Lebar: 30-40 cm,
-Isi: Roti buaya itu ngak diisi apa2, tapi di “Lauw” kalau pesen untuk diisi juga bisa
-Harga: 200.000-an seekor/sebuah
-Kegunaan: menurut Abang yg menjual, masih sering dipesan oleh orang2 betawi, untuk acara2 tertentu, nikahan misalnya.
-Gambar-gambar: Buat yang belon pernah liat emak dan babenya roti anak buaya ini ada fotonye
-Pamali/Pantangan:
Kononnya sih ada larangan keras untuk kaum pria dari golongan tertentu untuk makan roti buaya, ini berlaku untuk kaum pria yang istilahnya “kurang begitu setia dengan pasangannya”. Kenapa? Soalnya itu namanya kanibal, “Buaya Darat” makan “Buaya Roti”, hehehe ngaco, ini asli ngarang 8-).
-Sejarah dan latar belakang:
karena saya juga ngak tahu, pertanyaan pernah saya lemparkan ke milis “Sahabat Musium” jawaban yg saya dapat ini, saya kutip dengan ijin penulisnya Hersanita Utami (terima kasih banyak Mbak!)
---awal kutipan-----
Melanjutkan cerita dari Bang Henri mengenai Roti Buaya, dalam pernikahan adat Betawi, Roti Buaya merupakan salah satu "syarat" yang harus dibawa oleh calon mempelai pria untuk mempelai wanita. Roti Buaya ini dibawa pada hari pernikahan dan bukan pada hari lamaran loh... FYI, kalau pada hari lamaran, roti yang dibawa oleh calon mempelai pria adalah roti model mobil VW Combi :) dan sirup. Bukan iklan bukan sponsor nih.. tapi biasanya sirup yang dibawa juga agak jadul dikit.yaitu sirup cap Sarang Sari yang keberadaannya sekarang sudah agak langka. Menurut sejarahnya, yang biasa makan roti dengan sirup adalah "orang-orang gedongan" jaman dulu. Nah, karena pada hari lamaran itu calon pengantin wanita dianggap seperti "orang gedongan" maka, ia dibawakan roti + sirup
 Pada hari pernikahan, Roti Buaya yang dibawa bentuknya adalah sepasang buaya jantan & betina dan yang betina menggendong anak buaya di punggungnya.
Dan mengapa Roti Buaya? karena, Buaya adalah hewan yang paling setia dengan pasangannya. Untuk diketahui, Buaya hanya kawin sekali dalam seumur hidupnya. Maka, Roti Buaya yang dijadikan lambang dalam pernikahan adat Betawi ini membawa makna dan do'a agar pasangan yang akan menikah ini akan menjadi pasangan setia seumur hidupnya, amien. Gitu ceritenye.....…
Untuk Roti Buaya, selain di Lauw Bakery, mungkin juga bisa coba pesan di Toko Roti Erna (021-8290752) di daerah Tebet. Toko roti tradisional ini milik seorang Ibu asli Betawi (Ibu Erna) yang biasa menerima pesanan Roti Buaya untuk acara pernikahan.. enak juga loh buatannya...:)
---akhir kutipan----

Roti Buaya di Swiss?
Tambahan cerita yg saya dapatkan adalah bahwa Roti Buaya juga dipakai dalam adat pernikahan di Swiss. Begitulah yg diceritakan oleh salah satu rekan yg salah satu anggota keluarganya menikah dengan orang Swiss.

Waktu saya dengar, saya sih terheran-heran? Kenapa roti buaya dan bukan “Coklat Buaya” atau “Keju buaya” dan apakah buaya hidup di daerah sedingin Swiss? Mungkinkah orang swiss meniru orang betawi? 8-) Dengan pertanyaaan-pertanyaan ini saya akhiri cerita mengenai roti buaya. Mungkin ada saudara-saudari bisa memberi tambahan dan pencerahan? Mungkin Mbak Venny di Swiss?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar